Jumat, 11 November 2011

Asal Mula Bakpao

Bakpao (Hanzi: 肉包, hanyu pinyin: roubao) merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia.
Bakpao sendiri berarti harfiah adalah baozi yang berisi daging. Baozi sendiri dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran, serikaya manis, selai kacang kedelai, kacang azuki, kacang hijau,dan sebagainya, sesuai selera. Bakpao yang berisi daging ayam dinamakan kehpao.
Kulit bakpao dibuat dari adonan tepung terigu yang setelah diberikan isian, lalu dikukus sampai mengembang dan matang. Pao itu berati “bungkusan”, Bakpao berarti “Bungkusan-bak” , bak itu artinya daging.
Untuk membedakan bakpao tanpa daging (vegetarian) dari bakpao berdaging biasanya di atas bakpao diberi titikan warna.
Sejarah/Legenda Bakpao
Sejarah Bakpao sendiri berasal dari salah satu bagian kecil dari roman terbaik sepanjang masa, Sānguó Yǎnyì. Zhuge Liang (181 – 234) adalah salah satu ahli strategis terbaik China, juga sebagai perdana menteri, insinyur, ilmuwan, dan penemu legendaris bakpao.

Cerita ini berawal pada zaman tiga negara (sam kok) ketika terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok, perdana menteri Tiongkok saat itu, Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di selatan itu, terkenal dengan sebutan ‘The Southern Campaign’ – Suku selatan itu disebut juga ‘Nanman’ atau ‘orang barbar dari selatan’. Raja di daerah selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo.
Tak lama setelah Liang sampai di daerah selatan itu, Liang sudah mengalahkan Meng Huo 7 kali dan membebaskan 7 kali juga, dimana pada saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada Shu Guo (saat itu belum ada sebutan Zhong Guo karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu, Wu, Wei).
Setiap kali membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jenderal-jenderalnya: “ Kenapa dia dibebaskan ? Bagaimana jika dia memberontak lagi? ”, Liang dengan tenang menjawab: “ Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah mengeluarkan tanganku dari saku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya ”
Zhuge Liang tahu jika Meng Huo ditangkap dan dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya dan memberontak ke Shu, karena itu dia pikir lebih baik membuat pemimpin daerah selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya dan Meng Huo bisa memimpin daerah selatan untuk setia kepada Shu.
Pada peperangan yang terakhir, yang ketujuh kalinya, Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan. Dilembah itu Liang menaruh kereta pengangkut makanan. Ketika melihat kereta itu, Meng Huo langsung tertarik dan memimpin pasukannya masuk ke lembah itu.
Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu! Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api. Terjadi ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo.
Kemenangan ini tidak membuat Liang senang, ia hanya agak menyesali: “Jasaku sangat besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Langit(Tian/Tuhan); semoga Langit berkenan mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.” Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Liang.
Ketika Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata: “ Silahkan anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembali ”. Mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: “ Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan! Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi!! Meskipun aku tidak punya adat istiadat, aku masih punya upacara keagamaan yang masih menjunjung etika. Tidak, aku tidak sehina itu! ” Setelah kejadian ini, suku selatan tidak pernah memberontak lagi kepada Shu.
Ketika dalam perjalanan akan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang harus melewati sungai besar. Di sungai itu Liang tertahan karena selalu saja ada gelombang besar dan badai ketika pasukan Shu akan menyeberang. Zhuge Liang kemudian meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantar Liang dan Meng Huo berkata: “Sejak zaman nenek moyang kami, orang yang ingin melewati sungai itu harus melemparkan 50 kepala manusia untuk persembahan kepada roh sungai ”
Karena Liang tidak mau membuat pertumpahan darah lagi, ia membuat kue yang menyerupai kepala manusia: bulat namun rata didasarnya, dan kue ini disebut bakpao (baozi).

Sekarang, meskipun banyak yang tidak mengetahui asal usulnya, bakpao telah populer di seluruh dunia sebagai salah satu makanan tradisional Cina. Posisi bakpao bahkan sanggup menggantikan nasi seperti yang terlihat pada film Shaolin.

Fakta: Generasi ‘Dora’ Membanjiri Jejaring Sosial Facebook


Mungkin bagi Anda, tak lagi mengejutkan melihat anak berusia 8 sudah memiliki akun Facebook. Namun, fakta orang tua mengajari anak berbohong untuk bisa mendaftar sangat mengejutkan.
Saat ini, ada jutaan anak-anak di bawah umur atau generasi ‘Dora’ (film anak-anak) yang telah memiliki akun di jejaring sosial itu. Bahkan, di antaranya berusia sangat muda, yakni 8 tahun. Facebook sendiri memberlakukan peraturan yang melarang anak di bawah 13 tahun bergabung situsnya.
Di balik semua fakta yang nampak ‘biasa’ ini, terdapat fakta yang lebih mengejutkan, yakni orang tua sang anak yang membantu mereka melalui proses pendaftaran untuk mendapat akun di jejaring sosial ciptaan Mark Zuckerberg itu.
Sebanyak empat penulis studi ini berpendapat, pembatasan umur yang terinspirasi Children’s Online Privacy Protection Act atau biasa disebut COPPA ini sebagian besar diabaikan anak-anak dan orang tua. Bahkan, para orang tua lebih mendorong anaknya untuk berbohong.
“Data kami menunjukkan, banyak orangtua secara sengaja membiarkan anak-anaknya berbohong tentang usianya yang dalam kenyataannya, para orangtua membantu mereka melakukannya agar anaknya bisa mendapat mendapat akses pada situs yang dibatasi usia itu,” papar para penulis dalam pengantar hasil studinya.
Menurut hasil studi, sebagian besar (95%) dari orang tua yang memiliki anak berusia 10 tahun secara sadar mengetahui anaknya memiliki akun Facebook, dan 78% orang tua membantu anaknya membuat akun Facebook untuk anaknya.
Pada anak berusia 11 dan 12 tahun, persentase campur tangan dan sepengetahuan orang tua menjadi sedikit lebih rendah meski 89% orang tua yang disurvei yakin harus ada usia minimum untuk Facebook. Sebanyak 78% di antaranya yakin ada keadaan yang membuat ‘OK’ bagi anak mereka untuk bisa mendaftar layanan online itu.
Saat ditanya mengapa para orang tua mau melakukan ini, mereka sering kali beralasan hal ini berkaitan kegiatan sekolah dan komunikasi antar anggota keluarga. Apa jadinya jika generasi ‘Dora’ memiliki akun di Facebook?

Hasil studi yang didasarkan pada survei 1.007 orang tua di Amerika Serikat pada Juli lalu yang memiliki anak berusia 10-14 menemukan, 55% anak usia 12 dan 32% anak usia 11 tahun memiliki akun Facebook, sementara 19% dari anak usia 10 tahun aktif di situs itu.
Pertanyaan mengenai usia berapa yang sesuai bagi anak-anak agar bisa bergabung situs jejaring sosial ini telah diperdebatkan para pendukung privasi dan kelompok orang tua selama bertahun-tahun.
Zuckerberg sendiri telah mengatakan, anak-anak yang lebih muda dari 13 tahun bisa menggunakan layanan ini karena berinteraksi secara online merupakan bagian penting proses pendidikan yang terjadi saat ini.
Hasil studi Consumer Reports pada musim semi lalu menemukan, 7,5 juta anak di bawah usia 13 merupakan anggota Facebook. Para legislator sendiri mengaku telah memberlakukan hukum COPPA pada 1998 di saat internet modern mulai berjalan.
Hal tersebut dilakukan guna melindungi anak-anak dari predator pemasaran, risiko keamanan dan pelanggaran lain yang bisa timbul dari orang lain yang juga memiliki akses pada data pribadi lain mereka.
COPPA mewajibkan sebuah situs untuk mendapat ‘izin orang tua yang terverifikasi’ sebelum mengumpulkan informasi mengenai anak di bawah usia 13 tahun. Alhasil, banyak situs yang kini mulai memberlakukan pembatasan usia.
Sayangnya, saat situs-situs ini menambahkan batasan umur untuk persyaratan layanan mereka, dokumen hukum yang bertele-tele itu membuat para pengguna jarang membacanya sebelum mendaftar.
Para penulis studi baru ini menyatakan, COPPA memiliki konsekuensi yang tak diinginkan, yakni membatasi akses anak-anak ke Internet sembari mendorong orang tua bertindak tak etis dan menyarankan agar hukum berdasarkan usia harus diganti dengan perlindungan privasi yang universal.